Tuesday, September 6, 2016

5 Punca Penyakit Hati



Allah swt berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Ketahuilah bahawa setiap anggota badan kita diciptakan oleh Allah swt untuk tugas2 yang khusus, seperti mata diciptakan untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan begitulah seterusnya. Adapun tanda sakit anggota badan adalah apabila anggota kita tidak melaksanakan tugas tersebut dengan betul.

Sebagai contoh mudah, mata yang tidak dapat melihat dengan jelas maka ialah mata yang sakit, telinga yang tidak mendengar dengan baik,ialah adalah telinga yang sakit.

Demikian pula dengan hati, hati yang sakit terlihat dari ketidak mampuannya melaksanakan tugas khusus yang sebabnya Allah swt menciptakannya yaitu mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencintai-Nya serta untuk beribadah kepada-Nya Maka barangsiapa yang lebih mencintai dan lebih mementingkan sesuatu selain Allah swt berarti hatinya sakit.

Sungguh sudah menjadi fitrah manusia apabila ia ditimpa suatu penyakit dia akan berusaha mencari ubatnya, benarlah kata pepatah “mencegah lebih baik dari mengubati.” Dan untuk mencegah suatu penyakit maka kita harus mengetahui penyebab-penyebabnya.

Ada suatu penyakit yang lebih berbahaya dari semua penyakit jasmani yang paling berbahaya. Sungguh suatu kerugian bila seseorang ditimpa suatu penyakit tapi ia sendiri tidak menyedarinya. Penyakit ini mudah sekali menular dan mudah tertanam dalam tubuh, dan berkemungkinan kita mengidap penyakit yang sangat berbahaya itu. Penyakit itu adalah penyakit hati.

Elok kita perhatikan penyebab-penyebab penyakit hati dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah swt agar terhindar dari penyakit-penyakit tersebut dan berusaha mengubatinya bila kita telah terlanjur terjangkit penyakit tersebut.

1. Sebab berbuat syirik kepada Allah swt.

Syirik adalah jika seorang menyekutukan Allah swt dalam ibadah kepada-Nya. Di samping dia beribadah kepada Allah swt dia juga beribadah kepada selain Allah. Perbuatan syirik adalah perbuatan yang sangat tercela dan terlaknat.

Orang yang terkena penyakit ini ia akan menjalani hidupnya di dunia ini dengan iman dan aqidah yang cacat, hatinya akan selalu sakit, semua yang dilakukannya hanya berkisar nafsu belaka, dia tidak akan mengenal agama Islam ini dengan baik, sebaliknya dia akan mendapatkan kesedihan, perasaan takut, dan kehancuran, bahkan Allah swt menyifati orang-orang yang berbuat syirik kedudukannya lebih rendah dari binatang-binatang ternak. Allah swt berfirman,

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.

Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqan: 44)

Disebutkan di dalam Alquran, orang yang berbuat syirik seperti seorang yang jatuh dari langit, kemudian disambar oleh burung-burung, dan dicabik-cabiknya, atau dilemparkan oleh angin ke tempat yang jauh dan hina.

2. Sebab derhaka kepada Allah swt.

Apabila derhaka (maksiat) sudah bertumpuk dalam hati seseorang, maka dia akan menghalangi pandangan hati sehingga dia tidak dapat melihat, menyedari, memahami serta berfikir tentang ayat-ayat Allah swt.

Jika maksiat telah berkumpul dalam hatinya, maka dia akan menutupnya sehingga hatinya tidak menyenangi kebaikan dan tidak mahu berdzikir kepada Allah swt, lalu yang paling menyedihkan ia akan dikuasai oleh hawa nafsurnya yang jahat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلُ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِئَايَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijelirkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjelirkan lidahnya (juga).

Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka khabarkanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf: 176)

3. Sebab kelalaian dari berdzikir kepada Allah swt.

Manusia yang lalai akan terkejut tatkala mendengar dzikir atau nasihat dari seseorang, meskipun dia seorang penuntut ilmu, apalagi orang awam. Hal ini disebabkan kelalaian dari merenungi ayat-ayat-Nya sehingga syaitan masuk melalui peredaran darahnya menuju hatinya. Oleh karena itu, Allah swt sentiasa mengingatkan hal ini sebagaimana dalam firman-Nya,

وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَاوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

“Dan telah dekat kedatangan janji yang benar (hari berbangkit). Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (mereka berkata): “Aduhai, celakalah Kami, Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 97)

Orang yang lengah atau lalai diibaratkan seperti orang yang masuk ke dalam masjid lalu syaitan menekannya sehingga orang tersebut tidak berdzikir kepada Allah sedikit pun, seperti orang yang datang ke sebuah majlis ilmu lalu tertidur atau memikirkan hal-hal dunia, sehingga ia tidak memahami isi dari ilmu yg disampaikan tersebut.

Tak kurang ramai yang merasakan dari berzikir kepada Allah adalah lebih baik membaca surat khabar atau bermain bola dan seumpamanya. Allahu Akbar

Kelalaian menyerang hati seseorang, sehingga membuatnya berpaling dari taat kepada Allah swt, tidak senang berdzikir, tidak senang mendengar suatu kebaikan dan tidak mau mendekati kepada para ulama.

4. Sebab berpaling dari mempelajari ilmu agama, mendalami, dan mempelajari sunnah Rasulullah saw.

Pada zaman sekarang ini, kita sering mendapati orang lebih faham ilmu dunia daripada ilmu agama, bahkan masalah-masalah yang ringan dalam agama mereka tidak mengetahuinya, tata-cara berwudhu atau mandi pun mereka tidak memahaminya, mereka lebih mendahulukan urusan dunia yang fana ini.

Kemudian ada sebagian kaum muslimin yang berpaling dari membaca dan memahami Alquran dan al-Hadis, sehingga hati mereka terjangkit suatu penyakit berbahaya. 

Terbukti pada zaman sekarang ini, banyak para pemuda muslim yang buta akan huruf Alquran dan tidak mampu membacanya apa lagi membaca Hadith2.. Mereka enggan belajar ilmu agama Islam yang benar, yang digali dari Alquran dan sunah berdasarkan pemahaman para pendahulu mereka yang soleh seperti para sahabat Rasulullah saw. Mereka lebih menyukai mempelajari buku-buku cerita rekaan, kisah orang2 yg lalai dan hasil karya musuh-musuh Islam, padahal Allah swt telah berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {124} قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا {125} قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى {126}

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah dia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Toha: 124-126)

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

5. Sebab sibuk dengan urusan dunia dan mengabaikan agama.

Apabila seorang telah terjangkit penyakit ini, maka waktu-waktunya, samada siang atau malam dia habiskan untuk mengejar dunianya, pikirannya terfokus agar tercapai semua keinginannya. Adapun akhirat mereka kesampingkan sehingga tidak heran kalau ramai yang lebih suka ke tempat hiburan dari ke masjid, ramai yang lebih suka bersukan dari mendengar kuliyah agama, ramai yang lebih suka menonton tv dan filem bersama anak isteri dari menghadiri majlis ilmu. 

Kita bimbang inilah sifat yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia termasuk orang-orang yang lari dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang lalai hati kita dari berdzikir kepada Allah swt dan mudah-mudahan Allah swt menolong kita sehingga senantiasa kita dapat menghindari penyebab-penyebab sakit hati tersebut dan senantiasa diberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Amin.




No comments:

Post a Comment

Flickr